The Hidden Heroes
Sekumpulan drabble segar nan pendek :’)
Wrote by: Zamegun
Part 1: The happy family, poor Jongin
.
.
.
Malam sudah tiba saat dua bersaudara berjenis kelamin
laki-laki menyusuri sebuah jalan setapak. Postur tubuh keduanya nyaris senada. Yang
lebih muda, Jongin, menenteng sebuah plastik penuh berisi bahan makanan.
Sedangkan yang lebih tua, Yixing, sibuk menghampiri tanaman yang layu.
Memberikan tanaman-tanaman itu energi kehidupan yang ia pancarkan dari
tangannya. Lesung pipi milik si kakak muncul seketika tiap kali tersenyum
melihat tanaman yang kembali menghijau berkatnya.
Jongin sesekali melirik Yixing dan berhenti. Menunggu
si kakak menyelesaikan hobinya. Cahaya berwarna kehijauan memancar dari tangan
Yixing saat menyembuhkan tanaman di hadapannya.
“Kak Luhan salah sekali menyuruh kak Yixing
berbelanja.” Gerutu Jongin pelan. Namun kemudian berteriak pada Yixing yang
agak jauh di belakangnya.
“Ayolah kak Yixing, kau tidak mau kena sembur naganya
kak Yifan, kan?” Lanjut Jongin lagi.
“Sebentar lagi Jongin.” Yixing menjawab, namun tetap
berkonsentrasi pada tanaman ke sekian. Itu membuat Jongin menghela nafas tidak
sabar.
“Tidak ada sebentar sebentar lagi.” Jongin memutar
mata bosan. Kakaknya yang satu ini memang berhati malaikat, tapi kadang tidak
tahu situasi juga. Kalau harus menungguinya terus seperti ini, akan ada sepuluh
serigala mengamuk kelaparan dirumah. Jongin yakin itu. Jadi dengan
inisiatifnya, ia berpindah sekejap kesamping Yixing, menggandeng tangannya,
lalu berteleportasi ke rumah mereka dalam hitungan detik.
…
“Kenapa tidak bilang-bilang dulu sih Joooong?” Yixing
menghentak hentak kakinya kesal.
“Kak Yixing terlalu lama sih.” Jongin memasang wajah
malas.
Luhan bersedekap di depan pintu dapur, menemukan dua
orang yang ditunggu kedatangannya muncul tiba-tiba di hadapannya. Tanpa
menyadari keberadaan Luhan disana. Satu lagi, Yixing yang merengek dan Jongin
yang bersiul siul tidak jelas. Luhan kembali memijat pelipisnya.
“Tapi kan kasihan bunga tadi belum selesai aku
sembuhkan..” balas Yixing.
“Aku lebih takut disembur naga Kak Kris, Kak. Aku
masih mau hidup.” Bela Jongin tak mau kalah.
“Bisakah kalian berhenti berdebat dan letakkan
belanjaan itu di dapur sekarang?” Sela Luhan, antara gemas dan ingin mengunyah
dua kurcaci kelebihan gizi ini.
Jongin dan Yixing seketika berhenti berdebat, lalu
dengan patuh membawa belanjaan yang lumayan banyak itu ke dapur. Disana sang
koki, Kyungsoo, sudah menunggu dengan spatula di tangan kanan dan pisau di
tangan kiri.
“Kenapa lama sekali, hitam?” tanya Kyungsoo,
tatapannya tajam mengarah ke Jongin.
“Ya ampun kak, kenapa pakai kata hitam sih?” protes
Jongin. “Lagipula, kenapa cuma aku yang dimarahi?” Lanjut Jongin lagi. Bibirnya
mengerucut cemberut, minta dicium spatula milik Kyungsoo.
“Salah sendiri kamu hitam” Kyungsoo merebut belanjaan
dari tangan Jongin, tidak perduli adik hitamnya itu sudah menangis
meraung-raung dikatai kakak kesayangannya.
Yixing berkedip bingung dengan muka polos di dekatnya.
Menatap prihatin Jongin lalu menepuk bahu adiknya itu. “Sabar ya Jong, orang
pms memang gitu.”
Lalu gempa bumi tiba-tiba melanda kota itu. Kyungsoo
tetap tersenyum manis dalam kegiatan memasaknya yang indah.
…
End of part 1
…
Ini apa lahaulaaa >~< (/tutup muka malu)
Udah lah, yang penting kambek. Ada yang inget aku? :’)
